Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro
https://ojs.ejournalunigoro.com/CHEMVIRO
chemviro: Jurnal Kimia dan Ilmu LingkunganUniversitas Bojonegoroen-USJurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro2986-5255<p>Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan : Chemviro.</p>Analisis DO, BOD, Dan Total Coliform Sebagai Indikator Kualitas Air Sumber Mata Air Oetbolan Dan Oebonak Di Kota Soe
https://ojs.ejournalunigoro.com/CHEMVIRO/article/view/1771
<p><em>This study aimed to analyze the water quality of Oetbolan and Oebonak springs in Soe City using Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), and Total Coliform as indicators. The research employed a descriptive quantitative approach with grab sampling techniques. Water samples were analyzed in the enviromental laboratory using the Winkler method for DO, a five-day incubation method for BOD, and the Most Probable Number (MPN) method for Total Coliform, following the Indonesian National Standards (SNI). The results showed that DO concentrations at Oetbolan and Oebonak springs were 4.12 mg/L and 5.15 mg/L, respectively, which did not meet the established water quality standard (>6 mg/L). In contrast, BOD values were relatively low, measuring 0.7 mg/L at Oetbolan and 0 mg/L at Oebonak, indicating low organic pollution levels and compliance with water quality standards. Total Coliform counts were 13 MPN/100 mL at Oetbolan and 3 MPN/100 mL at Oebonak, which were far below the permissible threshold. These findings indicate that the water quality of both springs is generally good in terms of organic and microbiological aspects; however, limitations were observed in dissolved oxygen availability. This study provides essential scientific information on the condition of local spring water sources and serves as a basis for sustainable water quality monitoring and management</em></p>Hisreidi FunomeOktavina G. LP Manulangga
Copyright (c) 2026 Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-02-242026-02-2441288304Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Adsorpsi Fosfat dan TSS Dalam Air Limbah Binatu Menggunakan Adsorben Karbon Aktif Tempurung Lontar (Borassus flabellifer L)
https://ojs.ejournalunigoro.com/CHEMVIRO/article/view/1767
<p>Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan karbon tempurung lontar teraktivasi H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub> sebagai adsorben dalam menurunkan fosfat dan TSS dalam air limbah binatu. Penurunan ini dilakukukan dengan menggunakan metode adsorpsi. Proses pengolahan dilakukan pada variasi waktu kontak 30, 60, dan 90 menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa adsorben karbon tempurung lontar teraktivasi H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub> menyerap fosfat dan TSS sehingga menurunkan konsentrasi fosfat dan TSS dalam air limbah binatu. Jumlah fosfat yang teradsorpsi pada pemukaan adsorben pada variasi waktu kontak 30, 60, dan 90 secara berturut-turut sebesar 0,047; 0,032; dan 0,040 mg/g. Sedangkan jumlah padatan tersuspensi (TSS) yang teradsorpsi pada pemukaan adsorben pada variasi waktu kontak 30, 60, dan 90 secara berturut-turut sebesar 0,047; 0,032; dan 0,040 mg/g. Dengan waktu kontak optimum untuk penurunan fosfat dan TSS secara berturut-turut selama 30 menit dan 90 menit. Adapun pada kondisi optimum ini, efisiensi penyisihan fosfat dan TSS secara berturut-turut sebesar 68,98% dan 90,31%.</p>Anna SoloAfliani PutriMadalena Da Costa
Copyright (c) 2026 Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-02-242026-02-2441280287Konseptualisasi SiRedam untuk Pengelolaan Limbah Rumah Potong Ayam (RPA)
https://ojs.ejournalunigoro.com/CHEMVIRO/article/view/1765
<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Rumah Pemotongan Ayam (RPA) skala kecil di Desa Kebonbimo, Boyolali, berpotensi menghasilkan limbah cair dengan kandungan bahan organik tinggi yang dapat mencemari perairan dan menimbulkan bau tidak sedap di lingkungan organisasi. Permasalahan utama meliputi keterbatasan teknologi pengolahan yang sesuai dengan kondisi desa, biaya operasional yang relatif tinggi, serta belum optimalnya sistem pengendalian bau. Tujuan dari penelitian ini 1) Mengidentifikasi potensi kontaminasi air limbah cair RPA di Desa Kebonbimo 2) Menganalisis dampak bau terhadap masyarakat sekitar 3) Merancang prototipe SiRedam sebagai alternatif pengolahan limbah cair yang sederhana dan aplikatif. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan analisis deskriptif terhadap efisiensi serta prinsip penyaringan berbasis media alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair RPA meningkatkan beban pencemar organik dan memicu terbentuknya gas berbau akibat dekomposisi. Prototipe SiRedam dirancang sebagai sistem tertutup dengan media penyaring bertahap untuk menurunkan kadar bahan organik sekaligus mengurangi emisi bau sebelum limbah dialirkan keluar. Sistem ini dinilai sesuai bagi usaha kecil karena menggunakan material lokal dan konstruksi sederhana sehingga berpotensi menjadi solusi yang adaptif, terjangkau dan ramah lingkungan.</span></span></span></span></p>Rafif Allaam DhiyaulhaqArdi Satya MaulidanKristina Pratiwi
Copyright (c) 2026 Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-02-242026-02-2441272279Perspektif Perspektif Jasa Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Hutan Kota Wasesa, Purbalingga, Jawa Tengah
https://ojs.ejournalunigoro.com/CHEMVIRO/article/view/1728
<p>Perluasan kota di Kabupaten Purbalingga telah mengurangi tutupan vegetasi dan meningkatkan tekanan lingkungan, menyoroti pentingnya ruang terbuka hijau sebagai penyangga ekologis perkotaan. Studi ini bertujuan untuk meneliti persepsi pengunjung terhadap jasa lingkungan yang diberikan oleh Ruang Terbuka Hijau (RTH) Hutan Kota Wasesa, Purbalingga, Jawa Tengah. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan dengan menggunakan observasi lapangan, kuesioner skala Guttman yang diberikan kepada pengunjung, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan bahwa pengunjung sangat merasakan jasa pengaturan dan pendukung hutan kota, khususnya terkait dengan pengaturan iklim mikro, peningkatan kualitas udara, penyediaan oksigen, dan dukungan ekologis. Jasa penyediaan terutama diakui melalui keberadaan spesies tumbuhan penghasil pangan dan bermanfaat, sedangkan jasa budaya dikaitkan dengan rekreasi, pendidikan lingkungan, dan interaksi sosial. Hutan Wasesa dianggap sebagai aset ekologis perkotaan penting yang berkontribusi terhadap kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, menggarisbawahi perlunya pengelolaan ruang hijau yang terpadu dan berkelanjutan.</p>Ofi Diah Prasetyo RiniKharisma Nur KumalaBerliana Okta RamadhaniAgni Lili AriyantiGangsar Edi LaksonoIsrofahRafiif Zainu Labiib Arif Nur Surdianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-02-242026-02-2441259271